Mencintai Kesebelasan Dalam Keterbatasan

Siapa yang paling berhak mendukung sebuah kesebelasan?

0 395

Northwest derby yang mempertemukan antara Liverpool dengan Manchester United di Anfield beberapa pekan lalu berakhir dengan skor kacamata. Pertandingan berjalan anti-klimaks, tidak tersaji pertandingan sengit seperti yang diharapkan banyak pihak. Wajar kita mengharapkan pertandingan yang seru, karena yang bertanding sama-sama tim besar sarat rivalitas yang kental. Banyak orang yang kecewa termasuk saya, pertandingan yang seharusnya memberikan hiburan bagi para penontonnya, malah membuat kesal dan mengantuk.

Jalannya pertandingan Northwest Derby

Waktu itu saya nonton bareng di sebuah kafe di Jogja bersama salah satu komunitas pendukung Manchester United di sana. Ada ratusan kepala yang dikecewakan malam itu. Sepanjang 90 menit, chants makin lama terdengar makin pelan, yang konsisten terdengar adalah teriakan-teriakan kecewaan dan macam-macam umpatan keluar teratur dari mulut para pendukung yang makin lama makin lantang. Mulai dari menyoraki performa pemain yang buruk dan mempertanyakan keputusan wasit yang mengundang perdebatan.

Memang, sebetulnya membahas laga ini sudah kehilangan momentum dan relevansinya sekarang. Rencananya saya menulis ini begitu pertandingan selesai. Namun, karena adanya kesibukan (dan kebiasaan saya menunda-nunda sesuatu) barulah saya sempat menyelesaikan tulisan ini sekarang. Saya sendiri sebagai pendukung Manchester United malas mengingat-ingatnya. Tapi sebetulnya ada hal yang ingin saya bagikan kepada teman-teman semua sesama pendukung sebuah kesebelasan sepakbola, yang menurut saya terlalu bernilai jika tidak saya tuliskan. Pengalaman menarik saya saat nonton bareng tempo hari.

Sepanjang riwayat saya nonton bareng sejak dulu, baru kemarin saya mengalami pengalaman yang membuat hati terenyuh. Saat pertandingan hendak kick-off, sudah biasa kalau di tempat digelarnya nobar, orang-orang yang datangnya mepet dengan waktu kick-off sibuk mencari tempat duduk yang kosong, terlebih lagi di pertandingan-pertandingan besar dimana kafe selalu penuh, sering mereka yang datang telat tidak kebagian tempat duduk.

Saat itu, ada dua orang yang berdiri sambil salah satunya kebingungan mencari tempat duduk yang kosong cukup mencuri perhatian saya, temannya yang satu hanya diam. Yang kebingungan tadi memapah temannya berjalan, perlu waktu lama buat saya menyadari bahwa temannya yang dibantu berjalan ternyata memiliki keterbatasan penglihatan. Kebetulan ia duduk tepat di depan saya, dan temannya duduk di tempat lain karena di meja saya hanya tersisa tempat untuk satu orang saja.

Bertahun-tahun saya nonton bareng pertandingan bola. Baru kemarin malam saya menemukan seorang suporter yang maaf, tunanetra. Disitulah saya terenyuh. Saya yang kadang merasa paling loyal dan konsisten mendukung Manchester United, euforia kejayaan zaman Sir Alex, getirnya era Moyes, tidak jelasnya era Van Gaal, sampai sekarang ke era baru di bawah arahan Mourinho. Semua saya lalui dengan suka dan duka, tidak berkurang kecintaan saya kepada klub yang jaraknya beribu-ribu kilometer jauhnya.

Ilustrasi

Sepanjang 90 menit, beberapa kali saya sibuk memperhatikan orang tadi yang ada di depan saya. Ketika semuanya menonton dengan khidmat, ia hanya tertunduk, atau sekedar memandang kosong ke depan. Ketika semuanya mengeluarkan bentuk kekecewaan karena banyaknya peluang ataupun kesalahan yang muncul, teriakan sampai umpatan terus terdengar, tapi ia hanya diam sembari sesekali menepuk-nepuk kedua paha dengan kepalan tangannya, mungkin ia geram. Jika yang lain sibuk memainkan smartphone mereka karena pertandingan yang alot dan membosankan, ia sesekali terlihat melawan kantuk. Saya sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan, ia mungkin hanya berharap sesuatu yang sederhana. Mendengar suara sorak-sorai dari pendukung lain di sekitarnya seiring dengan adanya gol yang tercipta. Tapi sampai pertandingan berakhir, ia tidak mendengar itu. Saya jadi memikirkan arti kemenangan sebuah tim lebih jauh lagi, tidak sekedar tiga poin atau euforia sesaat, tapi membayar pengorbanan dan memberikan kepuasan batin mereka yang rela mendukung timnya dengan tulus. Sayangnya saya gagal berkenalan dengan orang tadi begitu pertadingan usai, karena saya sibuk berbincang dengan teman saya perihal begitu mengecewakannya jalannya pertandingan. Begitu selesai berbincang, ia sudah tidak ada di depan saya.

Jujur saja, saya pribadi tidak habis pikir, permainan sepakbola yang biasa dinikmati secara penuh lewat visual tidak menghalangi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan untuk menikmati jalannya pertandingan (lain halnya dengan yang terbiasa mendengarkan lewat radio, karena di lain kesempatan bisa melihat di media lain).

Pengalaman tadi membuat saya mengevaluasi diri bahwa ada banyak hal yang kurang saya syukuri. Bayangkan betapa beruntungnya kita yang diberikan keutuhan panca indera. Banyak pendukung sepakbola di luar sana yang tidak bisa melihat kehebatan seorang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Mereka tidak bisa melihat bagaimana cantiknya taktik yang diterapkan Pep ataupun sepakbola pragmatis ala Mourinho. Mereka tidak bisa protes jika ada pemain yang terperangkap offside namun hakim garis diam saja. Disitu saya sadar, mendukung sebuah kesebelasan tidak hanya sekedar mendukung sembari melihat mereka bertanding. Ada hal-hal yang yang sulit dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang kecintaannya kepada sepakbola benar-benar tulus.

Ilustrasi

Saya yang merasa ‘lebih’ dibanding pendukung yang lain serasa ditampar, dengan teramat keras. Menurut saya, pendukung yang sebenar-benarnya bukanlah mereka yang selalu hadir saat timnya berlaga, bukan mereka yang bernyanyi paling lantang saat pertandingan berlangsung, bukan juga mereka yang tetap tinggal ketika timnya sedang terpuruk. Merekalah yang mencintai sebuah kesebelasan dengan tulus terlepas dari keterbatasan yang mereka miliki, yang merusak sekat-sekat batas kecintaan yang akan sulit dipahami oleh orang awam.

Merekalah sehebat-hebatnya pendukung sebuah kesebelasan, yang tidak hanya menikmati sepakbola secara fisik namun juga dengan hati. Sekalipun pernah tidaknya ia datang ke stadion tempat timnya bertanding dan terlepas dari jarak yang membentang beribu-ribu kilometer. Mendukung sebuah kesebelasan adalah kenikmatan tersendiri bagi mereka yang pernah merasakannya.

“Anda tidak bisa memilih klub yang didukung, Tuhanlah yang memilihkannya.” – Antony Sutton (@jakartacasual)

Sebagai penutup, saya mengamini perkataan Antony diatas. Tuhan telah memilihkan Manchester United untuk saya dukung, dan saya akan mendukung tim ini dengan sebaik-baiknya.

 

(Ivan, biasa berkicau di @IvanPamuji/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...