De Gea Bukanlah Yang Terbaik!

Menginjak usia matang pesepakbola, pencapaian apa yang sudah dilakukan David De Gea?

0 1.422

Musim dingin musim 2010/2011, media sibuk berspekulasi tentang siapa yang pantas menggantikan Edwin Van Der Sar. Salah satu penjaga gawang terbaik di Eropa walaupun usianya sudah menginjak 40 tahun. Penyerang mana yang tidak gemetar mendengar Van Der Sar, Vidic dan Ferdinand akan bermain untuk mencegahnya mencetak gol? Era pertahanan terbaik Manchester United yang pernah saya saksikan, dalam puncak performa ketiganya, mereka menjadi lini pertahanan yang sangat disegani, puncaknya saat Manchester United mendominasi daratan eropa tahun 2008, walaupun beberapa tahun berikutnya Manchester United selalu berada dalam bayang-bayang Barcelona dengan sepakbola indahnya.

Malam yang indah di Moskow. Credit : Getty Images

Bukan tanpa alasan media ikut ramai soal siapa yang akan menjadi penjaga gawang Manchester United yang baru. Jika melihat sejarah, Manchester United sangat kesulitan mencari sosok pengganti Peter Schmeichel, pilar penting yang ikut mengantarkan Manchester United meraih Treble Winners di tahun 1999. Ada nama Massimo Taibi, Mark Bosnich, sampai Fabien Barthez, tidak satupun dari mereka yang sanggup memenuhi ekspektasi publik Old Trafford akan penjaga gawang yang tangguh.

Barulah di musim 2005/2006 Manchester United kembali kedatangan kiper baru. Pria dengan perawakan tinggi besar asal belanda yang didatangkan pada saat usianya sudah menginjak umur 34 tahun! Tentu saja semua orang ragu pada saat itu, walaupun sempat mencicipi Liga Champions bersama Ajax di tahun 1995. Satu dekade berlalu, dan Edwin hanya bermain untuk klub sekelas Fulham. Banyak anggapan bahwa masa keemasannya sudah berakhir. Kenyang akan pengalaman di berbagai negara malah menjadi modal besar Edwin menampilkan penampilan hebatnya dalam menjaga gawang Manchester United yang menjawab semua keraguan. Lalu munculah sukacita di antara para supporter, ada sosok yang mulai berhasil membalas kerinduan publik Old Trafford akan kiper hebat seperti Peter Schmeichel.

Edwin memutuskan gantung sepatu di akhir musim 2010/2011. Edwin yang telah dimakan usia bersikap realistis kalau dia tidak akan bisa lagi bermain sebaik musim-musim sebelumnya. Kenyataan bahwa gawangnya dibobol tiga kali oleh Barcelona di Final Liga Champions 2011 membuatnya tidak perlu berpikir dua kali untuk pensiun. Walaupun dia gagal membawa pulang trofi Liga Champions, namanya dikenang sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di era Sir Alex Ferguson setelah Schemichel. Dialah Edwin. Seorang juara, seorang legenda asal Belanda.

Edwin harus rela gawangnya dibobol tiga kali oleh Barcelona di Final Liga Champions 2011. Credit : Getty Images

Kekhawatiran kembali menghantui Manchester United. Siapa yang sanggup menanggung beban berat sebagai suksesor Van Der Sar? Tomasz Kuszczak, Anders Lindegaard dan Ben Amos terlihat belum pantas mengisi pos penting tersebut. Perburuan nama-nama potensial pun dimulai. Old Trafford tidak ingin lagi menyaksikan gawang timnya dijaga oleh kiper seperti Taibi, Raimond, Bosnich, dan Barthez, yang saat kedatangannya mereka semua digadang-gadang akan menjadi penerus Schemichel. Namun gagal memenuhi ekspektasi.

Masuklah musim 2011/2012, Manchester United memiliki seorang penjaga gawang baru asal Spanyol, pemuda kurus kering yang wajahnya dihiasi jambang bernama lengkap David de Gea Quintana. Didatangkan dari Atletico Madrid dengan mahar 22 juta poundsterling, harga yang cukup mahal untuk seorang penjaga gawang pada saat itu. Namanya belum begitu dikenal untuk orang-orang yang jarang menyaksikan Liga Spanyol. Mengapa Manchester United malah memilih De Gea alih-alih nama yang lebih bersinar, dan juga sempat digosipkan akan merapat ke Old Trafford pada saat itu, ada Stekelenburg, Igor Akinfeev, Manuel Neuer, Steve Mandanda, sampai Hugo Lloris.

Harapan baru Manchester United dibawah mistar gawang. Credit : Getty Images

Banyak masalah menghiasi musim pertama De Gea di Old Trafford, mulai dari masalah fisiknya yang kurang berisi sampai masalah pada matanya yang mengganggu penglihatan jarak jauhnya. Membuat penampilannya beberapa kali menuai kritik. Sampai pada akhirnya semua hal yang menghambat De Gea untuk tampil maksimal dibenahi oleh Sir Alex Ferguson dan staf kepelatihan Manchester United, khususnya pelatih kiper United pada saat itu, Eric Steele. Pada matanya dilakukan operasi, kondisi fisiknya ditingkatkan. Perlahan ia mulai menunjukkan kelayakannya sebagai penjaga gawang utama Manchester United.

Musim pertama De Gea berseragam Manchester United. Credit : Getty Images

Di musim keduanya di Old Trafford. Ia menjadi pilar penting saat Manchester United meraih gelar juara liga yang ke 20 sekaligus musim terakhir Sir Alex Ferguson, manajer yang memboyongnya ke Old Trafford. De Gea mencatatkan performa apik yang membantu tim merengkuh trofi liga ke 20, ia hanya kebobolan sebanyak 28 kali dan mencatatkan 11 clean sheets dari 28 penampilan.

Peningkatan kondisi fisik yang terlihat pada musim kedua. Credit : Manchester United

Sedikit demi sedikit ia mulai keluar dari bayang-bayang sosok kiper hebat dalam diri Peter Schemichel dan Edwin Van Der Sar yang selalu dijadikan acuan untuk dibandingkan sebagai penjaga gawang di Manchester United.

Dalam beberapa tahun terakhir, raksasa dari Spanyol, Real Madrid. Tidak henti-hentinya mendekati De Gea. Tentu saja ini membuat kesal dan gelisah para pendukung, belum lagi bagi pemain gosip ini dapat berakibat terganggunya konsentrasi saat pertandingan. Manchester United pun tentu saja tidak ingin kembali kehilangan salah satu pemain terbaiknya ke Real Madrid, setelah pada 2009 Ronaldo hengkang ke Santiago Bernabeu dengan harga 80 juta poundsterling, yang menjadi rekor transfer pada saat itu. Real Madrid sangat serius mendatangkan De Gea untuk menggantikan Iker Casillas, harga 30 juta pounds ditambah Keylor Navas didalam kesepakatan menjadi bukti keseriusan Real Madrid.

De Gea memeluk bola. Credit : Getty Images

Mimpi Madrid mendapatkan De Gea yang menjadi pemain terbaik Manchester United selama tiga musim berturut-turut, pupus gara-gara hal konyol. Hal menarik inilah yang sampai saat ini selalu diperingati pendukung Manchester United dengan sukacita, yang diberi nama ‘Fax Machine Day’. 31 Agustus 2015, sebuah mesin faks ‘menyelamatkan’ David de Gea yang hendak kembali ke negara asalnya. Satu jam sebelum bursa transfer ditutup, dokumen kepindahan De Gea terkendala karena sebuah mesin faks yang rusak. Kemudian Madrid menuduh United mengirimkan kertas kerja kepada mereka terlambat, yang berarti kesepakatan tidak bisa direalisasikan.

Madrid merasa dikhianati oleh De Gea dan Manchester United. Setelah kesepakatannya gagal. De Gea malah memutuskan untuk memperpanjang kontraknya di Old Trafford sampai 2019, dengan opsi perpanjangan satu tahun. Pendukung Madrid naik pitam, pendukung Manchester United seperti mendapatkan rezeki nomplok. Sudah kiper terbaiknya bertahan, kontraknya diperpanjang pula.

De Gea memiliki kontrak sampai 2019. Credit : Getty Images

Memasuki musim 2017/2018, musim ketujuhnya De Gea membela Manchester United. Ia sudah  berhasil mengoleksi medali Premier League, FA Cup, Piala Liga, 3 Community Shield dan yang paling anyar, Europa League. Catatan penampilannya berseragam Manchester United pun terbilang luar biasa, sampai sekarang De Gea sudah mencatatkan penampilan sebanyak 285 kali di semua kompetisi, hanya melewatkan 36 pertandingan. Mencatatkan 107 clean sheets dan kebobolan 283 kali. Hanya 1 kali ditarik keluar lapangan dan mengoleksi 3 kartu kuning saja.

Sudah banyak penyelamatan-penyelamatan gemilang yang dilakukan De Gea. Namanya sudah tidak diragukan lagi sudah bisa disejajarkan dengan nama besar Peter Schemichel dan Edwin Van Der Sar. Konsistensinya terbukti, terhitung ia sudah dilatih oleh 4 manajer berbeda di Manchester United. Perannya sebagai jantung pertahanan Manchester United tidak terbantahkan lagi.

Passion. Credit : Getty Images

Seorang penjaga gawang mendapatkan gelar pemain terbaik berturut-turut dalam 3 musim adalah pencapaian individu yang luar biasa, sebuah rekor baru malah. Tapi dari sudut pandang kesebelasan, tidak ada yang bisa benar-benar dibanggakan. Seorang penjaga gawang yang posisinya berada di barisan paling akhir dan jarang tersorot kamera, sempat menjadi pemain yang paling penting dan berpengaruh dalam tiga musim minim prestasi. Mungkin karena De Gea adalah satu-satunya pemain yang konsisten penampilannya saat Manchester United diarsiteki David Moyes dan Louis Van Gaal. Apa yang salah dengan pemain-pemain lainnya?

Dalam pagelaran FIFA Fotball Awards 2017 yang baru digelar belum lama ini, nama David De Gea tidak termasuk ke dalam jajaran tiga besar kiper terbaik. Bahkan masuk nominasi pun tidak! Mencengangkannya lagi, ada nama Cladio Bravo dalam nominasi, kiper yang suka melawak dari klub tetangga.

Persetan dengan nominasi FIFA! Saya tekankan, David De Gea adalah kiper terbaik saat ini. Bukan Neuer, bukan Buffon, bukan Navas, apalagi Claudio Bravo! Secara kemampuan De Gea memang sudah melewati nama-nama hebat lainnya. Barulah, dalam soal pencapaian ia memang kalah. Sialnya, sepertinya De Gea bermain di Manchester United pada waktu yang salah. Seandainya tangan dingin Ferguson masih berada di Old Trafford, koleksi medali dan penghargaan pasti sudah memenuhi lemarinya. Itulah yang terkadang membuat saya merasa De Gea diperlakukan tidak adil, ia sangat layak mendapatkan yang lebih daripada ini.

Suksesor. Credit : Getty Images

Satu hal menurut saya yang membuat De Gea masih belum diakui banyak orang sebagai yang terbaik adalah, absennya trofi Liga Champions. Hal inilah yang biasanya dijadikan patokan layak tidaknya seorang pemain dikatakan yang terbaik di tanah eropa bahkan dunia. Coba saja berkomentar kalau De Gea adalah yang terbaik. “De Gea bukanlah yang terbaik!” adalah respon yang sudah pasti akan muncul, dan yang tidak setuju akan menyebut-nyebut trofi Liga Champions, De Gea akan dibandingkan dengan nama-nama seperti Navas, Buffon (walaupun sama-sama belum memiliki trofi UCL), dan Neuer.

Lagi-lagi De Gea tidak banyak berkomentar, ia tetap bermain luar biasa sebagaimana biasanya. Ia lebih memilih membuktikan dengan kesigapannya menghentikan serangan lawan. Titel ‘yang terbaik’ mungkin tidak terlalu dipikirkannya, yang dia utamakan hanya bermain sebaik-baiknya. Padahal ia bisa saja dengan mudah menjadi ‘yang terbaik’ andai bermain untuk Bayern Munchen ataupun Real Madrid. Tapi De Gea lebih memilih Manchester United dengan segala yang klub ini punya.

Saat ini, De Gea adalah sebaik-baiknya seorang penjaga gawang yang diimpikan setiap kesebelasan untuk menjaga gawangnya. De Gea adalah sebuah anomali. Ia tidak perlu hengkang ke liga yang secara domestik kurang kompetitif, untuk membuktikan kemampuannya. De Gea lebih memilih bertahan di Theatre of Dreams tidak hanya sebagai penjaga gawang tapi juga sebagai penjaga mimpi, menjaga tradisi untuk menjaga mimpi-mimpi besar yang selalu ada di stadion ini, agar terus hidup dan dapat diraih.

Pusat perhatian. Credit : Getty Images

Status legenda siap disandang, seandainya dia masih membela klub ini untuk beberapa musim ke depan. Harapan saya (walaupun berat), De Gea terus bertahan dan pensiun di klub ini di usia yang sama seperti Van Der Sar saat memutuskan untuk pensiun. Tapi kelak, jika memang ia memutuskan untuk meninggalkan klub ini. Kita akan jauh lebih menghargai apa yang disebut seni pertahanan. Aksi-aksinya di bawah mistar telah memahat ingatan di benak kita tentang sosok seorang penjaga gawang asal Spanyol. Karena pada dasarnya, sebuah kesebelasan besar selalu diisi oleh kiper-kiper yang hebat. Salah satunya adalah penjaga gawang hebat yang besar di Illescas ini. Salah satu pemain terbaik yang pernah membela Manchester United.

I admire David De Gea. I cannot remember anyone coming into Manchester United and being criticised the way he was. He was the subject of every debate in the media. You haven’t seen De Gea defend himself in the media or shifting the blame elsewhere. He just gets on with it.  – Peter Schmeichel

Selamat ulang tahun, David De Gea Quintana!

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...