Kisah Kejayaan Class of ’92

0 88

Manchester United merupakan klub tersukses di Inggris hingga saat ini. Kesuksesan tersebut bukan hanya dikur dari pencapaian gelar semata, tetapi termasuk didalamnya ialah pembinaan bakat para pemain akademi yang dimiliki. Adapun lulusan akademi 5 tahun terakhir yang menjadi andalan manajer Manchester United, diantaranya ialah Paul Pogba, Marcus Rashford, Jesse Lingard, Axel Tuanzebe, dan Scott McTominay.

Padahal, Jose Mourinho yang sejak awal diduga tidak akan mengoptimalkan para pemain muda terlebih lagi ia mendatangkan sejumlah pemain ngetop justru membuktikan sebaliknya. Jose Mourinho sangat memercayai nama-nama yang telah disebutkan di paragraf sebelumnya. Hal yang dilakukan oleh Mourinho tersebut mengikuti jejak pendahulunya yaitu Sir Alex Ferguson. SAF mempercayai para pemain akademi sejak pertengahan era ‘90an.

Dari kiri: Pelatih Eric Harrison, Ryan Giggs, Nicky Butt, David Beckham, Gary and Phil Neville, Paul Scholes, dan Terry Cooke

Kala itu, pada awal musim English Premier League 1994/1995 Fergie mulai memercayai sekolompok pasukan mudanya yang kini dikenal sebagai Class of ’92. Class of ’92 beranggotakan David Beckham, Nicky Butt, Paul Scholes, Ryan Giggs, Gary dan Phill Neville. Keputusan Fergie tersebut tidak berbuah hasil pada musim itu sebab gagal mempertahankan gelar Liga Primer Inggris dan memicu berbagai kritikan.

Kritikan semakin deras memasuki musim berikutnya setelah Fergie menjual beberapa pemain senior dan langsung menelan kekalahan di laga perdana melawan Aston Villa. Bahkan Alan Hansen (mantan pemain Liverpool dan pundit BBC) saat itu menyindir Manchester United dengan mengatakan “Anda tidak akan memenangkan apa-apa di musim 1995/96 jika hanya sebatas mengandalkan sekelompok anak-anak.”

Akan tetapi, Fergie tetap menaruh keyakinan penuh kepada pasukan mudanya. “Sudah sangat jelas, bakat-bakat para pemain anggota Class of ’92 sangat luar biasa. Mereka sudah menunjukkan kemampuannya di kompetisi junior. Teknik dan gaya permainannya sangat spesial,” tutur sang bos menanggapi sindiran tersebut. Keyakinan dari sang bos pun dibayar lunas oleh para punggawa Class of ’92 dengan mempersembahkan dua gelar di penghujung musim, yakni Liga Primer Inggris dan Piala FA.

Prestasi mereka pun terus berlanjut dan seolah tak terbendung. Hingga pada puncaknya, mereka menjadi aktor utama dalam menyabet treble winner pada musim 1998/1999 sekaligus membawa Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang menjuarai Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions pada musim yang sama.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...